021 557 40878
smait@asy-syukriyyah.sch.id
Cipondoh,Kota Tangerang , 15141
blog-img
04/09/2020

Refleksi Webinar MC2 - Oleh Widya Wijayanti

admin | Pendidikan

Gambaran perasaan guru sebelum mengikuti webinar:

MC Kuadrat dengan pembicaranya Kak Rio adalah salah satu trainer yang sangat saya tunggu-tunggu jadwal pelatihannya. Alhamdulillaah pada Kamis (27/8/2020) pukul 13.00 WIB Lembaga Pendidikan Asy-Syukriyyah (LPIA) memfasilitasi kami sebagai guru yang mempunyai peran lebih yaitu sebagai wali kelas untuk mengupgrade pengetahuan mengenai peran dan tanggung jawab yang sedang kami emban, terlebih lagi dalam kondisi pandemi covid-19 yang mengharuskan wali kelas melaksanakan tugasnya secara online.

Berbekal semangat yang begitu kuat, semoga dengan adanya “training for wali kelas” ini dapat membantu saya untuk memaksimalkan peran sebagai wali kelas yang dapat memberikan bimbingan dan perubahan-perubahan yang positif terhadap siswa-siswi yang saya bina.

 

Gambaran perasaan guru ketika mengikuti webinar:

Menyimak sambutan yang telah disampaikan oleh Direktur Pendidikan Yayasan Islam Asy-syukriyyah, bahwa “kita tidak perlu lagi saling menyalahkan satu sama lain. Namun yang harus jadi fokus kita adalah kemajuan pendidikan Islam”, pembukaan webinar sangat terasa keseriusan dan begitu pentingnya. Sebagai peserta pelatihan, saya berpikir bahwa sebenarnya tugas tambahan yang diampu oleh wali kelas sebenarnya bukanlah sebuah beban, melainkan berupa tugas mulia. Mulia dilihat dari bagaimana peran wali kelas yang begitu besarnya ternyata dapat memberi pengaruh terhadap siswa-siswi binaannya jika wali kelas tersebut dapat bersyukur menikmati amanah dan memberi dampak positif untuk siswa-siswinya.

Kemudian menurut pemaparan Kak Rio, wali kelas juga adalah seorang guru, dan yang namanya seorang guru, perlu terapi atau belajar. Untuk itu dalam pembelajaran online seperti sekarang ini, seorang wali kelas perlu mempunyai beberapa kemampuan (skill), yaitu:

  1. Technology intelligence, kemampuan mengkolek nilai satu per satu. Mengkolek satu per satu perkembangan siswa-siswinya. Karena sisi positif pembelajaran di masa pandemik ini, pendataan-pendataan siswa-siswi sudah terekap secara digital dan itu bisa dijadikan bukti akurat rekapan siswa-siswi (adanya data). Untuk itu wali kelas, ayo melek teknologi karena sekarang pun zamannya zaman digital.
  2. Social-Emotion Intelligence, apapun yang dilakukan oleh orang tua murid itu namanya feed back, feed back atas ketidakpahamannya, makanya harus dipahami. Bagaimana caranya? Kitanya sebagai wali kelas harus selesai dulu. Selesai dalam hal masalah-masalah pribadi di rumah.

Analogi seorang wali kelas adalah sebuah burger. Dimana susunan-susunan yang terbawahnya dimulai dari orang tua, anak, wali kelas, wakil kurikulum, kepala sekolah, sampai disusunan paling atas yaitu yayasan. Jadi posisi wali kelas ada di tengah-tengah susunan burgernya. Artinya adalah, wali kelas sebagai penjembatan antara atasan yaitu Yayasan, Kepala Sekolah, Wakil Kurikulum. Kemudian sebagai wali kelas harus pintar-pintar menanggapi feed back yaitu dipikirkan dalam-dalam solusinya, jangan sampai terbawa dengan masalah orang tua.

  1. Kemampuan Kontekstual. Jika ada orang tua yang begitu banyak kosakatanya dalam berkomunikasi dengan wali kelas, maka dengarkan saja dulu dan telaah intisari pembicaraannya. Belajar jadi pendengar yang baik, tidak terbawa dalam masalahnya.
  2. Transformatif. Jangan takut untuk bertransformasi, untuk berubah menjadi lebih baik. Wali kelas perlu meningkatkan communication skill. Bukan hanya skill teknologinya saja tapi cara mengelolanya juga. Budaya pembelajaran sekarang budaya online jangan pake cara offline. Pembelajaran online ini begitu singkat, jadi perlu kemampuan memanage waktu singkat yang online sediakan. Contohnya kalo kita sudah biacara 10 menit, kita adakan ice breaking, supaya anak-anak antusias lagi dalam pembelajaran atau pertemuan-pertemuan online. Kalo kita pakai cara offline, misal komunikasinya biasa-biasa saja, kurang ekspresif dan lain sebagainya anak-anak bisa mengantuk, ketika anak mengantuk kita tidak bisa lagi menegurnya langsung menyentuhnya langsung, dan pembelajaran atau pertemuan-pertemuan online kita menjadi kurang optimal.

 

Gambaran perasaan guru setelah mengikuti webinar:

Setelah mengikuti webinar ini saya merasa fresh (segar kembali), mendapat poin-poin yang jelas mengenai hal-hal yang perlu dimiliki oleh wali kelas, dan juga menjadi termotivasi untuk mengupgrade skill dan mencari informasi-informasi terkait perubahan-perubahan yang ada di dunia teknologi, pembelajaran, dunia anak-anak, terlebih lagi dalam memaksimalkan peran sebagai wali kelas. Terima kasih LPIA, terima kasih SMAIT. Allahu Akbar.

 

Penilaian guru mengenai webinar:

Penilaian webinar training for teacher ini sangat optimal dalam persiapan, penyampaian materi dan penutup / kesimpulannya. Penjelasan yang rumit bisa disederhanakan dan tercerna dengan baik oleh saya sebagai peserta training, serta masalah-masalah yang ada dianalogikan dengan contoh yang tepat yang sesuai dengan keseharian oleh Kak Rio. Bahasa yang digunakan pun sangat familiar di kalangan guru-guru.

 

Perubahan dan rencana yang akan dilakukan setelah mengukuti webinar:

Setelah mengetahui bahwa ada empat skill mendasar yang harus dimiliki oleh wali kelas, maka berbekal informasi yang sudah saya dapat dari webinar “training for teacher” siang ini, saya memiliki beberapa agenda atau rencana-rencana yang akan saya tambahkan dalam buku catatan saya. Adapun rencana-rencana tersebut adalah sebagai berikut:

  1. mengupgrade skill (Technology intelligence, Social-Emotion Intelligence, Kemampuan Kontekstual dan Transformatif).
  2. Mencari dan mempelajari informasi-informasi terkait perubahan-perubahan yang ada di dunia teknologi, pembelajaran, dan dunia anak-anak.
  3. Lebih memaksimalkan peran sebagai wali kelas yaitu sebagai jembatan antara sekolah dengan wali murid.
  4. Lebih sering bersyukur karena dengan adanya amanah sebagai wali kelas ini maka membuka pintu-pintu kebaikan.
  5. Tenang dalam menghadapi “feed back” yang muncul dari orang tua/wali murid.

 

 

Sekian dan terima kasih,

 

Tangerang, 27 Agustus 2020

 

 

Bagikan Ke:

Populer